Friday, December 2, 2016

6 Perlengkapan Newborn yang Tidak Wajib Dibeli

Disclaimer dulu, ya. Daftar perlengkapan di bawah ini ditujukan untuk newborn dari usia 1-3 bulan. Perlengkapan yang disebutkan ini bukan berarti sama sekali nggak boleh dibeli, yah. Karena sesungguhnya kebutuhan newborn itu nggak banyak. Semua perlengkapan di bawah ini, menurutku bisa dibeli nanti ketika anak udah lewat dari 3 bulan, yang di mana mungkin kebutuhannya udah berbeda. 

1. Crib atau boks bayi. 
Ini adalah barang terakhir yang aku beli sebelum Josh lahir. Waktu itu aku dan Andreas sempet galau, mau beli boks bayi atau nggak. Karena kami pikir, Josh bobo bareng kami aja, kalo udah gedean baru bobo sendiri. Tapi aku juga masih pengen bobo enak dan leluasa, jadilah akhirnya kami beli boks bayi.

Terus kepake nggak? 

Awal-awal, sih, kepake. Cuma karena aku menyusui, kok males banget, ya, kalo tiap malam harus bangun dari ranjang, angkat Josh dari boksnya, nyusuin, terus dibalikin lagi? Belom setelah itu, Josh jadi ogah bobo sendiri di boksnya, karena mungkin dia udah terbiasa deket ketek emaknya. Jadilah Josh co-sleeping dengan papa mamanya sampai sekarang ini. 

Sebenarnya kalo mau beli juga nggak masalah, sih. Disesuaikan dengan kebutuhan, ya!

Boksnya Josh yang berakhir (sementara) sebagai pajangan kamar

2. Changing table. 
  
Changing table fungsinya untuk mengganti popok dan baju bayi dan biasanya juga sebagai tempat penyimpanan barang esensial bayi.

Aku sempet tergoda untuk beli changing table di Ikea (yang putih itu lhoo), karena kayaknya apik banget untuk ditaro di kamar. Setelah dipikir-pikir, changing table itu kepakenya bener-bener sebentar banget!

Kalo fungsinya hanya sebagai tempat gganti popok dan baju, aku cukup pake perlak karet jadul yang sepanjang masa itu. Tinggal gelar di atas ranjang, setelah selesai tinggal dilipat lagi, beres!

Jadi menurutku, changing table nggak wajib dibeli, ya. Buibu yang tetap mau beli, boleh nggak? Ya, boleh lah. Sok, mangga. *cieeh, udah bisa Sunda*   

3. Baby bouncer
Apakah Anda tau, bahwa Josh punya tiga bouncer di rumah? Tentunya bukan beli sendiri, tapi dikadoin semua dari beberapa teman.

Aku beruntung banget nggak beli bouncer, karena aku tau ini salah satu barang bayi yang kepakenya sebentar banget. Begitu bayi udah bisa duduk sendiri—which is sekitar 7-8 bulan—bouncer nggak akan terpakai lagi. Coba liat, deh, di dus kemasan bouncer pasti ada warning-nya kalo bouncer nggak dianjurkan bagi bayi yang udah bisa duduk sendiri. 

Kalo memang butuh bouncer tapi nggak pengen beli sendiri, coba sewa aja. Sekarang, kan, ada banyak banget situs penyewaan yang menyewakan barang-barang bayi. Bisa juga rikues ke siapapun yang berencana untuk ngasih kado lahiran. 

 Ketua geng Papa dan Mama lagi bobo di bouncer favorit, kado dari aunties kesayangan. Merek bouncer-nya Mastela Music & Soothe Bouncer.

4. Baju-baju bayi yang unyu. 

Ini, sih, godaan terbesar para ibu-ibu yang baru punya bayi, yes? 

Soal baju bayi, aku sendiri udah diwanti-wanti Mama untuk nggak beli seabrek, karena bayi cepet gede pake banget! Koleksi onesies Josh udah ngepas semua, hampir nggak bisa dipake lagi. Bahkan ada dua potong sleepsuits untuk ukuran 3 months—yang nggak pernah dipake—udah nggak muat sama sekali. Josh sekarang muatnya pake baju ukuran 6 atau 9 months, ontiii. Duh, Josh, can you grow slower? 

Bayi newborn 1-3 bulan biasanya kebanyakan di rumah aja, jadi nggak perlu nyetok banyak baju. Aku beli beberapa potong kaos oblong dari Libby yang super adem buat sehari-hari di rumah. Kalo buat pegi, bajunya itu-itu lagi juga gapapa kok. Tadinya, sih, emaknya macam insecure gitu, kalo baju peginya Josh itu-itu lagi. Entar dikira emaknya pelit gimana?? Cuma melihat Josh melarnya cepet, sayang kalo beli baju cakep kebanyakan, ujung-ujungnya nggak sempat kepake. 

Belanja baju enaknya tunggu anak udah 6 bulan aja, mungkin udah bisa nyetok agak banyakan. Sekarang duitnya ditabung dulu buat persiapan beli peralatan tempur untuk MPASI, yang di mana akan berlangsung kurang dari 3 bulan lagi. Yaampun, Joshhhh... gedenya cepet banget, sih?!

5. Car seat

Sejak hobi nonton vlog keluarga bule, aku amat sangat menjunjung tinggi pentingnya car seat

Selain buat keamanan, car seat itu bisa mendisiplinkan behavior anak di dalam mobil, lho. Konon katanya, anak yang sejak kecil terbiasa duduk di car seat, dia nggak akan mudah grasak-grusuk di dalam mobil. So the kid will know, whenever he gets into a car, he should sit nicely at the car seat. 

Saat pilah-pilih car seat, kami baru tau ada dua jenis car seat. Pertama infant car seat carrier, yang bisa ditenteng ke mana-mana. Kedua adalah car seat biasa untuk bayi yang kepalanya udah kuat dan bisa duduk tegak.

Infant car seat carrier

 
Car seat biasa untuk bayi yang udah bisa duduk sendiri. Bedanya nggak ada tentengannya aja, ya

Kalo begitu, harus beli dua dong? Nggak bisa langsung beli car seat biasa aja? 

Nahhh, kalo yang car seat biasa itu, nggak cocok untuk newborn. Walaupun bilangnya for 0+ months, menurutku tetep nggak bisa, soalnya kepala newborn belum setegak itu. Karena mau hemat-hematan, akhirnya memutuskan untuk menunda beli car seat sampai menunggu Josh bisa duduk sendiri. Terus gimana dengan teori ingin mendisiplinkan anak dalam mobil sejak dini? 

Thankfully, kami ditawarin untuk beli stroller set yang dilengkapi dengan infant car seat. Kami langsung yesss untuk beli, karena kebetulan Josh belum punya stroller waktu itu. Stroller yang kami beli merek Babyelle seri Aspen S 603. Penampakannya seperti ini: 

 Punya Josh persis warna ini. It comes with other colors like purple, brown, and red

Stroller-nya sendiri sekitar 10kg, tapi nggak tau kenapa agak berat buatku. Kalo andaikata aku jalan-jalan berdua aja bareng Josh nanti, rasanya, sih, nggak kuat nenteng sendirian. But anyway, car seat-nya kepake banget, bisa sampai anak umur 1 tahun. Harganya masih cukup terjangkau di angka 1,3jutaan.

Buat yang pengen hemat, bisa cari stroller set dengan infant car seat, atau ya sewa lagi. Kalo pengen punya dua car seat nggak masalah juga, sih. Saya, kan, mau jadi mama yang pintar menghemat. Or me just being cheapo... beda-beda tipis, sih, yah ((: 

6. Baby carrier

Sampai saat ini, Josh belum punya baby carrier. Mau, sih. Soalnya sebentar lagi Josh mau pulang kampung ke Bali bulan depan pas Imlek. YAY! 

Aku sebetulnya udah pengen banget beli baby carrier sejak bulan lalu. Soalnya kalo pergi ke tempat tertentu yang nggak stroller friendly, lebih praktis pake baby carrier, Andreas juga bisa ikut gendong, plus hands-free

Setelah menimbang-nimbang, newborn belum begitu butuh baby carrier. Alasannya lagi-lagi kepala newborn itu belum kuat dan tegak sempurna. Kepala Josh sebetulnya udah kuat dalam posisi tengkurap, tapi kalo digendong posisi berdiri, kepalanya masih suka terhuyung-huyung ke belakang. Jadi baby carrier masih bisa kami pending sampai bulan depan, sebelum berangkat ke Bali. And by that time, Josh will be 5 months already. 

Solusi pengganti baby carrier, bisa pake gendongan bayi atau baby sling. Aku punya gendongan batik warisan dari Mama, yang dipake pas aku dan adikku masih bayi (wow!). Karena aku pengennya praktis dan cepat, akhirnya nggak kepake gendongannya. Ketauan Mamaku, sih, pasti dituduh males... which is half true :P

Cukin batik legendaris

Anyway, baby carrier incaran saat ini adalah: this and this. Kalo ada yang pake salah satu dari merek ini, review plisss. Soalnya salah satu brand kayaknya gencar banget masarin produk mereka. Beneran bagus atau marketing scheme belaka, sih?

That's all my opinions! Sekali lagi, harus banget punya preferensi sendiri dan disesuaikan dengan kebutuhan, yaa.

Happy shopping, moms-to-be!

Saturday, November 26, 2016

20 Facts About Me (updated)

Hello!

So, today I decided to update my 20 facts about me. Here we go!

1. I'm a wife, a mom of a son, and currently living in Bogor.

 Mi familia

2. I can speak, read and write in Chinese (Mandarin). If you know me in person, you know that I grew up speaking Mandarin with my family, especially with my Mom. My Dad understands Mandarin but he can't speak, which makes me wondering because grandpa was Chinese (he came from mainland China). Oh and by the way, Mandarin is actually my first language.

3. This might be a surprise to some of you, but yes I still can't drive (but I do ride motorcycle and have license). I once learned how to drive when my brother volunteered to teach me, but after few minutes he gave up because I seemed like a bad driver ahahahaha. Sorry, bro. Now, I really really should learn how to drive since we have Joshua. Kalo nggak kapan ngemol berduaan sama Josh?? I mean... someday he will go to school and I will be the one who drives him. So, hopefully in 2017. Wish me luck!   

4. If  I only can eat one kind of food for entire life, that would be... nasi uduk! Tadinya mau bilang Indomie, tapi, kan, nggak sehat banget. Nasi uduk contains more of nutrition, I guess? Carbo from the rice itself, protein from the ayam goreng, tempe and eggs. Okay now I am hungry.

5. I'm wearing glasses since eight, always trying to wear contact lenses but failed. I feel "naked" without my glasses and not confident with my monolids (and uneven) eyes. Hopefully in 2017 (part 2). Wish me luck!

6. This is not a coincidence but I don't like yellow colored veggies/fruits. Don't like pineapple, durian, jackfruit, and corn. But actually I love lemon, banana and mango. Wait, mango is yellow, right? 

7. In the age of 25, I can say that I really can't live without coffee, not literally of course. I don't really remember when the first time I tasted coffee, but I knew coffee from my Dad. I used to drinks lots of instant coffee. But since I worked at Starbucks, I reduce to consume instant coffee, and learn to drink fresh brewed coffee. Thanks again to my Dad, he introduced me to his favorite local coffee, Sidikalang, and it becomes my favorite too! Now I live apart from my parents, every time I brew my own Sidikalang, it always feels like home.

8. Speaking of Starbucks, yes I had worked at Starbucks for seven months. I shared my experiences here and here.

9. Beside coffee, I'm also a HUGE fan of milk (bubble) tea! My favorite milk tea are from Gong Cha and Dakasi. But since both outlets are available in Jakarta, ShareTea or Chatime are great too. Hong Kong style milk tea is definitely a BOMB. Too bad I can't find any HK style milk tea here even in Hong Kong or Chinese restaurant. Btw, don't let me choose between milk tea and coffee. Because I CAN'T )':

Posing with Gong Cha on my first Hong Kong trip 2011

Hong Kong milk tea that I had in a restaurant. Bomb!

10. I quit drinking soda since high school and that was the best decision ever.

11. I don't go to amusement park but Disneyland is an exception.

12. I always want to dye my hair! I planned to color it after gave birth, but since I breastfeed Josh I can't dye my hair. Hopefully in 2017 (part 3).

13. I love everything made from Oreo (cookies n cream). From ice cream (Baskin still my favorite!), milkshake, chocolate, cakes, anything!

14. My all-time favorite movies are The Devil Wears Prada, Freedom Writers, Julie and Julia and Bride Wars.

15. I know how to play piano, specifically classic (you know... Mozart, Beethoven and friends). I took first Royal exam in 2011 in Guang Zhou, both piano and music theory. I failed in piano exam (grade 6) and I was pretty bummed out, because I spent money a lot to take piano private lesson for preparing exams and I felt like a failure because I'd been taking piano course since 7 years old and the exam result gave me nothing. I remembered I called my Mom and can't stop crying. I said sorry to her and maybe I will try again next time. This probably not in 2017 hahaha. We'll see (:

16. I love listening to K-Pop. Girls' Generation (SNSD), EXO, Super Junior... basically S.M Town family are my favorite. I'm also love K-Indie songs.

17. Both me and Andreas have a special love for Japanese food. Anything from sushi, sashimi (I don't eat it anyway, but Andreas does), donburi, tempura, ramen, udon... okay I shud stop here. *drooling*

18. I'm quiet a bookworm. My first reading when I was a kid are Disney classic story book collections (thanks, Mom!). My favorite novel's genre of course young adult, Metropop, and chick lit. Sophie Kinsella's Shopaholic series are my favorite. But I don't mind reading other genre as long as it's great.

19. I always wanted to become an author and publish my own novel. But I never finished my first draft. #classic.

20. Someday I really would like to go back to Taiwan and Hong Kong. These two countries always have a special place in my heart.

So, those are my 20 facts, I hope you guys feel like you got to know me a little bit better. And I would also like to know you better! Tell me more about you in the comment box below and I would love to read it :D

Have a great weekend, happy Thanksgiving for those who celebrates, and stay awesome!

Saturday, November 12, 2016

Gimana Jadi Orang Bogor?

Review setahun tinggal di Bogor, ahhh.

(emangnya pilem, di-review?)

Jadi abis nikah tahun lalu, aku langsung ngikut Andreas tinggal di Bogor. Kayaknya waktu itu nggak ada proper farewell yang gimana banget sama rumah dan keluarga di Bali. Padahal, sih, lumayan emosional, karena harus beradaptasi lagi di tempat baru, dan tentunya status baru.

Dan setelah tinggal di Bogor, muncul lah pertanyaan-pertanyaan dari sanak saudara dan juga manteman sebagai berikut:

"Kok pindah ke Bogor, sih?" 

"Betah nggak di Bogor?" 

"Di Bogor emang ada apa?" 

"Ngapain pindah ke Bogor? Nggak di Bali aja?" 

dan seterusnya. 

Selain data KTP yang berubah, sampai detik nulis postingan ini, aku sama sekali nggak (atau belum?) ngerasa jadi orang Bogor. Alasannya dijabarkan sebagai berikut:

1. Dari dulu, sekarang dan selamanya, aku ini forever anak ibukota. Darahnya betawi banget, bang!

2. Karena alasan pertama itulah terjadi drama singkat saat menerima KTP baru dari RT setempat. Drama bahwa tidak bisa menjadi #TemanAhok. Iya, nggak sempat daftar di saat masih memegang KTP Jakarta hiks.

(namun yang penting status udah jadi kawin yaaa) 

3. Keburu jatuh cinta sama Bali karena udah sempat tinggal dua tahun. Bali terasa "rumah untuk pulang" karena keluarga (ortu dan para adik) sudah menetap semua di sana. Sekarang kalau ke Bali, ya serasa pulang, bukan lagi untuk liburan. Yaa... liburan tetep, deh. Boong banget ke Bali kalau nggak sekalian liburan, hihi.

Terus ada yang lucu, nih. Mertuaku kalau ditanya kerabat aku ini orang mana, mereka menjawab aku orang Bali hauhaha. Biasanya aku "ralat" dikit dengan kalimat, "Asli Jakarta kok, cuma orangtua udah pindah ke Bali." Pembelaan diri banget nggak mau dibilang orang Bali. Pokoknya gueh orang Jakarte!

Udah setahun, pastinya ada loves and hates di kota hujan ini. Hates-nya, sih, hampir nggak ada yah, kecuali MACET nya, bok! Ampun deh, ngalah-ngalahin ibukota banget macetnya (oke, ini lebay).

Bogor, kan, kota kecil, jalan utamanya ya itu-itu aja. Jadi kalo udah rush hours, macetnya ajubile di beberapa titik tertentu. Apalagi kelakuan sopir-sopir angkot yang literally menganggap jalan raya tuh milik bapaknya. Sampe-sampe suami yang asli orang Bogor bilang, "Apanya yang lovable city, sih?". Btw, Kota Bogor menjadi pemenang "We Love Cities 2016", and the most lovable city in the world (katanya). Makanya suami ngedumel, hihi.

Despite kemacetannya, ada satu hal yang paling aku suka dari Bogor, apalagi kalo bukan... kulinernyaaa. Haiii, Gang Aut!

Walaupun Bogor mulai rame sama kafe-kafe kekiniannya (hai Two Stories yang sampe sekarang belom aku coba *senggol suami*), aku tetep cinta sama kuliner lokalnya.

Apa yang muncul di kepala kamu kalo ditanya soal kuliner Bogor? Roti unyil, kue talas (enak banget, sih!), asinan, soto mie kuning, de el el. Kalo yang nggak halal ada yang namanya ngohiang yang enaknya kebangetan. Kalo soto mi, aku masih prefer yang abang gerobakan dibanding the legend soto mie Agih.

Awal-awal tinggal di Bogor, aku jarang banget nyicipin kuliner lokalnya. Malah pas hamil baru mulai nyobain atu per atu. Tau aja, kan, napsu makannya bumil kayak apa. Satu Gang Aut bisa kali sehari ditilep hauhaha.

Jajanan khas Bogor yang aku belom coba itu lumpia basah. Yang enak itu di Gang Aut, pas di depan toko Ngohiang. Dan katanya yang punya udah 40an tahun jualan lumpia, lho! *applause* 

Sayangnya, Bogor jarang ada yang jualan bakmi—non halal eniwei—yang aku suka. Mungkin karena kebanyakan chinese Bogor bukan orang Medan (kalo di Jakarta, yang jualan bakmi itu kebanyakan orang Medan). Bakmi Yunsin gimana, Jennn? Oke, sih, tapi kurang memuaskan. Malah lebih suka Mie Golek yang di Sentul. Recommended!

The other thoughts of Bogor... well, orang lokalnya, sih, baik dan ramah. Apalagi aku suka order jasa GoFood, sopan santun driver-nya oke-oke, lho. Entah karena memang itu attitude yang harus dimiliki oleh semua driver, yah. Terus kadang aku dipanggil teteh juga. Pas ketemu, eh... ini mah enci-enci banget hihi.

Dan aku, kan, nggak ngerti Sunda, kalau dari intonasinya kadang sounds funny (sorry, no offense, Sundanese!). Padahal katanya bahasa Sunda orang Bogor agak kasar. Cuma mau kasar juga tetep lucu kalau lagi marah. Again, no offense, yah. Btw, jadi keinget postingan soal Sundanese ini. OMG, I just can't. Untung suami nggak Sunda banget, kalo nggak kan aku kualat ngetawain suami mulu hihi. 

Kesimpulannya, aku emang belom (atau mungkin nggak akan bisa) jadi orang Bogor. But surprisingly, aku betah juga tinggal di sini. Mungkin karena tiap hari Minggu aku pasti ke Jakarta untuk ibadah (iya, jauh banget ibadahnya), dan kadang ngunjungin sodara, jadi masih bisa kangen-kangenan sama ibukota.

Sekian untuk postingan di hari Sabtu yang mendung ini. I hope you guys have an awesome weekend! 

P.S. Setelah ngecek folder hape dan laptop, baru ngeh nggak pernah punya foto yang "Bogor banget". Jadi mohon maaf postingan hari ini photoless yaaaah. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...