Thursday, June 22, 2017

My Only 3 Personal MPASI Advices

Setelah menjalani empat bulan MPASI bareng Josh, baru sekarang ini bisa ceritain pengalaman kami berdua.

Kok kami? Iya, soalnya yang ngejalanin, kan, berdua... aku dan Josh. Aku yang nyiapin, Josh yang makan. Kalau Josh makannya pinter, aku senang. Kalau Josh susah makannya, aku .... (isi sendiri titik-titiknya) :P

Sebelum start MPASI, aku suka blogwalking ke blog-blog lainnya. Kebanyakan semua heboh sharing list belanja peralatan MPASI. Nggak lupa list peralatan makannya harus kekinian dong, biar anak seneng pas waktu makan.

Selain peralatan makan, resep-resep MPASI jaman sekarang juga nggak kalah heboh. Kalau scrolling akun para mommies di IG nggak jarang aku ngerasa terintimidasi. Kok #MPASIoftheday mereka kece sekali?? Itu beneran dimakan sama anaknya? Habis ludes? Kok anaknya baru 7 bulan udah makan nasi goreng? dst... dst...

Pertanyannya, apa iya peralatan dan resep-resep MPASI itu perkara paling penting? Gimana dengan behavior anak saat makan? Gimana dengan behavior orangtua (khususnya Mama) saat anak makan? 

So, di hari pertama libur panjang ini, aku mau sharing beberapa poin tentang MPASI yang aku dapatkan secara pribadi... dan sebenarnya berharap dulu ada yang kasih tau tentang poin-poin di bawah ini sebelum aku terjun ke dunia MPASI.

Seperti biasa, semoga berguna dan menginspirasi, ya! 

Friday, June 16, 2017

Career After College


Ngomongin soal karir setelah kuliah, rasanya kok udah agak basi, yah. Cuma rasanya ada sesuatu yang 'mendorong' aku untuk nulis tentang ini.

Aku lulus kuliah udah 4 tahun yang lalu. Memori tentang karir yang aku jalani seblum akhirnya menikah, masih sangat menempel di kepala ini. And thanks to my diary (yes, aku masih nulis diari!), beberapa hal penting yang aku tulis, akan aku bagikan di sini. 

Tanpa ada maksud tertentu, aku berharap—seperti biasa—tulisan ini bisa menginspirasi beberapa pembaca yang aku tahu masih ada yang kuliah atau usianya di awal 20-an. Buat yang udah menikah dan emak-emak, dijadikan pengetahuan umum tentang gue aja, ya. HAHAHA.

Mari kita mulai curcol tulisan panjang ini.

Monday, June 5, 2017

Bicara Bahasa Mandarin dengan Anak, Kenapa Nggak?

Beberapa hari lalu, aku nggak sengaja nemu video Mark Zuckerberg ngomong bahasa Mandarin dengan lancar, di salah satu forum di Tsinghua University, Beijing, China. Aku cukup kaget kalau ternyata doi bisa ngomong selancar itu. Tengok dulu, deh, videonya.

Nih, tips buat yang pengen berbahasa Mandarin (dan bahasa asing lainnya) dengan lancar, kuncinya PERCAYA DIRI kayak Mark :D

Bukan rahasia lagi kalau bahasa Mandarin udah menjadi global language kedua setelah bahasa Inggris. Setelah nonton video ini, aku merasa makin ke sini makin banyak orang yang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin sebagai second language mereka, khususnya bos-bos perusahaan gede, salah satunya si bos Facebook ini.

Satu dekade yang lalu, aku pikir yang mau belajar Mandarin itu masih terbatas yang sipit-sipit macam aku, yang lahir sebagai keturunan Tionghoa, tapi nggak bisa bahasa Mandarin. Atau karena di sekolahnya ada pelajaran Mandarin, terus di rumah nggak ada yang bisa bantu ngajarin, jadi mau nggak mau ngeles, deh. Ternyata aku baru tahu beberapa sekolah negeri pun, pelajaran bahasa Mandarin itu wajib lho. Bahkan saat aku kuliah di China, aku menemukan banyak teman pribumi mengambil progam S1 bahasa Mandarin.

Btw, bahasa Mandarin itu tergolong bahasa yang cukup sulit. Tapi ternyata antusiasme masyarakat lokal kayaknya makin nambah aja tuh.

Waktu beberapa orang tau kalau aku komunikasi dengan Josh dalam bahasa Mandarin, mereka salut dan bilang aku hebat. Sejujurnya, aku nggak pengen dibilang hebat juga, sih. Buat yang udah lama kenal aku pasti tau, deh, bahasa Mandarin itu memang salah satu bahasa ibu di keluargaku. Jadi yaa... ngomong Mandarin ke Josh itu itu menjadi sebuah keharusan buat aku pribadi, because that's our mother language. 

Aku suka banget dengan alasan Mark kenapa doi belajar bahasa Mandarin. Sesimpel karena istrinya Chinese (walaupun ternyata Mandarinnya Priscilla Chan nggak fasih juga, ya, hihi), keluarga mertuanya Chinese dan nenek istirnya hanya bisa berkomunikasi in Mandarin. Wajar banget kalo ada keinginan pengen dekat (atau mencuri hati) keluarga istri, jadi dibela-belain, deh, kursus Mandarin yang susyeh itu.

Buatku pribadi, ngomong bahasa Mandarin dengan Josh itu bukan suatu untuk keren-kerenan. Bukan juga biar dibilang anaknya pinter banget bilingual sejak bayi. Lah, emang bahasa ibu gue kok. Sama aja kayak kita ngomong bahasa Indonesia, begitu juga aku dan bahasa Mandarin.

Selain alasan bahasa ibu, seperti yang aku bilang di awal, makin ke sini makin banyak orang yang belajar bahasa Mandarin, termasuk mereka yang terlahir keturunan Tionghoa. Pasti pernah, deh, denger atau mengalami sendiri, diomongin orang kalo muka Cina tapi nggak bisa Mandarin. Kenapa anak muda jaman sekarang nggak fasih Mandarin, alasannya harus tanya di orangtua, kerena orangtua memegang peran penting. Kalo menurut mamaku, (spesial 'riset' ke beliau demi tulisan ini) karena takut anaknya jadi bingung bahasa. Entar nggak bisa ngomong Indonesia piyeee? Lah, hidupnya di Indonesia kok, orang-orang sekitar juga orang Indonesia. Masuk sekolah juga pasti bisa ngomong Indonesia. Terus, ketakutan speech delay (bakal di bahas di bawah) juga menjadi alasan emak-emak untuk nggak ngajarin bahasa ibu kedua ke anak. Makanya nggak heran yeee, bahasa Mandarin itu identik sama orang tua atau kakek nenek. Padahal nggak sama sekali.

Demi mematahkan teori alasan emak-emak tersebut, aku ngikutin 'jalur' mamaku untuk ngelanjutin bahasa Mandarin ke anak-anakku nanti. Untuk saat ini, ya, Josh dulu. Istilah kerennya, melestarikan budaya nenek moyang, lah. Alasan sebener-sebenernya... takut diomelin mama kalo nggak ngajarin Mandarin ke Josh, LOL #MamaTakutMama

Punya skill berbahasa asing (walaupun hanya satu bahasa) juga banyak banget manfaatnya, salah satunya bisa jadi bekal bertahan hidup.

Maksudnya gimana tuh bertahan hidup?

Contohnya, waktu ke Jepang dua tahun lalu, aku dan suami pede banget bisa jalan sendiri di sana, hanya dengan bantuan Google maps dan tentunya bahasa tubuh. Udah pada tau, kan, kemampuan bahasa Inggrisnya Japanese itu masih agak-agak gimana gitu. Yang bikin kaget, ternyata dengan bahasa Mandarin, kami bisa survive juga lho. Bahasa Mandarin itu bantu kami banget untuk baca huruf kanji dan tebak-tebakan arti. Terus bisa juga berkomunikasi dengan petugas/pelayan yang kebetulan bisa berbahasa Mandarin (this happened two times while we were in Japan. First, sama mas-mas Sevel pas lagi nanya jalan. Kedua, sama mbak-mbak petugas di Metro waktu nanya jalan juga). Ini maksudku untuk bekal bertahan hidup. Ya, kalo nggak bisa juga, sih, nggak masalah. Tapi SO MUCH better, kan? *jawab iya aja, kalau nggak tulisan ini nggak berarti HAHA*.

Bagaimana dengan pernyataan kalau anak yang belajar dua bahasa resiko speech delay? Awalnya aku sempat khawatir, sih. Aku, 'kan, ngikutin daily vlog-nya Bubz. Akhir tahun lalu Bubz ngaplot video ini, di mana dia cerita kalau dia agak khawatir anak mereka si Isaac mengalami speech delay. Bubz dan Tim memang bilingual juga di rumah, they speak both Cantonese and English. Tapi di saat mereka lagi concern, Isaac mulai ngomong beberapa kata dan kalimat, walaupun pelafalannya belum jelas banget. Jadi memang beberapa anak late bloomer gitu, bukan karena kelainan tertentu. Btw, Isaac umur 3 tahun di bulan Agustus ini. Fakta usianya ini yang bikin kolom komen pada gonjang-ganjing, bilang seharusnya anak umur 3 tahun itu udah harus bisa cas-cis-cus. Yang kek gini-gini harusnya emang nggak usah terlalu didengerin, ya! *justsayin*

Kalau baca di situs Baby Center, sebenarnya anak bilingual bakal speech delay itu mitos belaka. Anak yang bilingual di rumah, mereka memang sedikit lambat untuk bicara karena harus menyerap dua bahasa sekaligus dalam otak mereka. Orangtua boleh khawatir kalau anak dalam usia tertentu—yang harusnya udah bisa bicara beberapa kata/kalimat dalam jumlah tertentu tapi belom bisa samsek—baru deh tuh dibawa ke ahlinya untuk dicek lebih lanjut.

Eniwei, so far, di usia 9 bulan lebih ini, Josh mulai paham beberapa kata dalam Mandarin. Dia ngerti kata "pai shou" yaitu tepuk tangan, "yao yao tou" yaitu geleng-geleng kepala (sumpah ini lucu banget! Hahaha), "dao gao" yaitu doa, soalnya Josh pasti doa sebelum makan dan bobok. Waktunya doa, dia diem aja tuh.

Terus, bagaimana dengan bahasa Inggris? Diajarin juga nggak?

Bahasa Inggris belajar di sekolahan aja deh, seus! Sebetulnya sehari-hari aku ngomongnya juga campur-campur Inggris, sih. Misalnya, secetek ngomong "No!", "Good morning/night!", "Hello!", dllnya. Tapi nggak yang sampai full Inggris. Maklum, emaknya cupu kalau bahasa Inggris. Terbatas nulis caption atau status di sosmed aja, 'kan buat pencitraan hauahahaha :P

Ini hanya bits of my thoughts about Mandarin. Nggak tau kenapa tetiba pengen nulis ini. Semua gara-gara video bos Facebook itu. Sampai sekarang masih amaze dia bisa ngomong Mandarin selancar itu hahaha. 

Eh iya, mumpung berhubungan dengan topik, bulan Februari kemarin aku nulis tentang cara belajar bahasa Mandarin di Youthmanual. Baca donggg kalau sempat. Buat iseng-iseng atau dipraktekin juga boleh. Maacih, lho!

Teman-teman di sini, ada nggak yang sama kayak aku 'menelan' dua bahasa sejak bayik di rumah? Efeknya apa, sih, sampai sekarang? Atau yang punya anak, do you guys speak bilingual to your kids? Sharing-sharing di kolom komentar, ya!

Friday, June 2, 2017

Cerita Gimana Bisa Kuliah di China 8 Tahun yang Lalu

I rarely share my testimony about the goodness of God on my blog. Mungkin pernah tapi hanya sekilas. Soalnya kadang ragu untuk menceritakan pengalaman pribadi tentang iman
Karena minggu lalu di gereja baru mengakhiri sermon yang bertemakan Taste and See, kayaknya aku pengen bagiin sesuatu yang berhubungan dengan itu.

Note: What I'm gonna write here is what I believe in. Tapi aku percaya apa yang aku tulis nggak bicara tentang agama tertentu, malah harusnya sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari even you're not on the same "belief" with me. Namanya "iman" itu, kan, sangat personal, ya. So aku percaya kalian juga pasti pernah mengalaminya (:

Tuesday, May 23, 2017

My Favorite Articles This Week


Setelah dua minggu nggak ada postingan baru yang berarti—kecuali curhatan khas emak-emak ini, hari ini pengen share dua artikel yang aku tulis di dua portal berbeda (tapi dua-duanya anak dari Zetta Media, sih hihi). Agak cheating, tapi nggak apa-apa, deh. Semoga setelah ini bisa nulis postingan baru untuk blog!

Artikel pertama murni untuk hiburan. Because my huge love for Critical Eleven, aku memutuskan untuk nulis sesuatu tentang itu. Alasan kenapa nulis tentang Anya, soalnya di film Anya tuh gambaran perempuan Indonesia masa kini banget nggak, sih? Aku bukan Anya banget pastinya, tapi seru juga kalo bisa belajar dikit-dikit dari Anya biar jadi istri yang lovable buat suami. Setuju, yah? :D


Tips untuk nulis artikel (biar viral) di portal macam Hipwee: tulis yang sedang kekinian. Aku curi kesempatan untuk nulis tentang Critical Eleven karena memang lagi diomongin banget. Walaupun memang udah muncul beberapa artikel serupa, aku coba ngupas dari sisi yang agak berbeda. Puji syukur, lho, terakhir ngecek artikel ini udah di-share sebanyak 1,000+ kali! Mayannnnn. 

Artikel kedua ini lebih ke informasi buat mama-mama yang baru aja melahirkan. Aku nulis beberapa hal tentang sit moon period yang merupakan tradisi orang Cina, yang kudu dilakukan oleh perempuan pasca melahirkan. The one that I most regret for not (frequently) doing it was... pake gurita! Pantes perut gini-gini aja, ish!


Semoga tulisan di atas berfaedah untuk mengisi waktu hari ini, ya.  Happy reading and hope you have a great day! 

Friday, May 19, 2017

I'm The Mother of The Year

Ada yang udah nonton video viral di grup Whatsapp, tentang anak kecil terbalik dari ban pelampung waktu berenang di baby spa? Posisi si anak malang tersebut benar-benar terbalik 90 derajatdengan kedua kaki di atas dan kepala menghadap ke bawah... ke dalam air!!

Jantung rasanya langsung lepas setelah nonton video singkat itu. Buru-buru nyamperin Josh yang lagi main di bawah, terus aku peluk-peluk sambil nangis T___T 

Terus kenapa video kemarin bikin aku emosional sekali? 

Berikut alasan yang bisa diberikan: 

1. Aku lagi marah dan kesel banget karena Josh susah makan (lagi). 

Buat yang ngikutin Instastory aku, beberapa waktu lalu aku sempet sharing soal makannya Josh. Beberapa kali juga aku mention kondisi Josh kalo lagi makan seperti apa. Di blog ini juga pernah aku sesekali nyebut kalau Josh susah banget makannya. 

Nggak jarang aku stres sendiri kalo lagi mikirin soal ini. Pernah 1-2 kali muncul keajaiban, tiba-tiba Josh mau makan dengan gampangnya. Tapi dengan gampangnya juga keajaiban itu tiba-tiba hilang. 

Kemarin itu aku udah di puncak emosi. Kalo Josh nolak makan, biasanya aku biarinin aja. Entah kenapa kemarin itu aku berubah wujud menjadi ibu tiri. Di saat Josh udah geleng-geleng nolak makanannya, aku pegang kepalanya, lalu aku paksa masukin sendok ke mulutnya, sampai anaknya berontak. Nangis? IYA LAH. Siapa juga yang suka dipaksa. Tapi aku sampai setega itu masukin beberapa sendok dengan cara yang sama.  

Ending-nya gimana? Makanannya diemut, anaknya stres, makin sebel sama aktifitas makan, dan anaknya nggak mau nengok ke mamanya sampai mangkok dan sendok udah nggak dipegang mamanya lagi. 

I'm not proud of what I did. 

Tapi ternyata aku belom kapok. Malamnya, I repeated the same thing. Nggak lupa kali ini disaksikan suami dan mama mertua. Selesai makan malam, aku gendong Josh duluan ke kamar untuk kasih nenen. Guess what happened. 

Josh nangis histeris. 

He wanted to breastfeed, tapi mulutnya masih 'nyimpen' makanan yang aku paksa suapin tadi. Aku korek makanannya keluar, dia makin jerit. Mungkin kalo dia bisa ngomong, he wanted to say that he hates me. He hates that I force-feed him. Dan sekarang di saat dia pengen nenen—which his favorite dan sesuatu yang bisa calm him down dari perlakuan emaknya hari ini, dia malah makin benci. He refused my breast and my heart breaks. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan pelukin dia sampai nangisnya reda. I said sorry to him, repeatedly. Mama sama sekali nggak bangga dengan apa yang udah mama lakukan ke kamu, Josh. Apa yang udah mama lakukan itu nggak benar dan udah nyakitin kamu.

Thus, Mother of The Year award belongs to me. 

Selesai peluk-pelukan, akhirnya dia menikmati sesi nenennya, kemudian lelap. Suami masuk ke kamar begitu aku tidurin Josh di crib-nya. I sat there, he looked at me and I began to cry. 

Nggak ada yang ngalahin sedihnya seorang Mama yang abis berbuat salah ke anak. Mungkin rasa sedihnya juga dirasain oleh orangtua si anak yang 'kecelakaan' di kolam baby spa, karena mereka lalai mengawasi anak mereka. 

Jadi seorang mama itu gampang. Nikah, hamil, punya anak, jadi mama, deh. Namun jadi seorang mama yang baik itu butuh proses belajar yang panjang.

Selama 9 bulan ngurus Josh, beberapa kali ketemu masalah aku selalu ingin dapat cara yang cepat untuk menyelesaikannya, termasuk selama menghadapi MPASI Josh ini. Aku lupa kalau cara yang tercepat itu nggak selalu benar dan baik

Cekokin makanan ke anak itu memang cepat, tapi buat mental anak sungguh nggak benar. Gimana dia bisa senang makan, kalau cara makan aja dipaksa kayak gitu? Gimana dia bisa makan banyak, kalau ketemu sendok mangkok aja langsung bete? 

Masalah anak susah makan bukan sesuatu yang baru. Kayaknya itu memang udah jadi momok untuk para ibu, deh. Mungkin aku harus bisa menemukan cara yang berbeda untuk ngatasin masalah ini. Masalahnya, sih, memang sama. But every child is different, Josh is different. 

Mudah-mudahan kejadian kemarin bikin aku bertobat. Makan bisa dipelajari pelan-pelan. Mungkin mamanya harus mulai rajin masak yang enak-enak. Selama Josh sehat, aktif dan selalu ramah sama setiap orang, I guess I have nothing to worry about (:  


Btw, semoga anak di video tersebut baik-baik saja, ya ):

OH YA! Kelupaan nulis alasan keduanya. Padahal kayaknya ini alasan terpenting juga, yaitu... LAGI DATANG BULAN!

Saturday, May 13, 2017

Diary of The Week #3: What a week!


Akhirnya nonton Critical Eleven di bioskop! 

I'm a fan of Critical Eleven by Ika Natassa since the novel came out in 2015. Buat yang suka baca novel pasti nggak asing sama judul ini yang sukses nangkring di rak best seller di mana-mana. 

Wednesday, May 10, 2017

Won't Give Up For My Country

Image credit to kompasiana.com
 
 
"Love and faithfulness meet together, 
Righteousness and peace kiss each other."
Psalm 85:10 (NIV) 

Saat cinta dan kesetiaan bertemu, 
maka kebenaran dan damai pun bercinta. 

Jangan putus asa untuk rumah kita, kawan. 
Karena sesungguhnya masih ada harapan. 

Friday, April 28, 2017

Orang Tionghoa Nggak Boleh Jadi Barista?

Woh, judul postingannya udah cukup menengangkan belum?

Beberapa waktu lalu aku dapet sebuah DM di Instagram yang bikin aku gatel pengen ditumpahkan di sini. Isi DM-nya curhatan. Bisa dibaca di bawah ini:

 Btw, udah minta ijin ke ybs kok untuk posting ini (:

Lagi-lagi soal stereotype orang Tionghoa dengan profesi pekerjaan yang dipilih. Klise sekali, bukan? 

Respon setelah baca DM ini, ya senyum-senyum cantik aja. DM itu aku balas sesingkat dan sepadat mungkin. Thank God setelah itu yang mengirim DM ini menikmati pekerjaan baru dia sebagai barista.

Sekarang curhat dikit leh, yaaa.

Waktu aku jadi barista dulu, orang-orang terdekat sama sekali nggak mempermasalahkan pilihan pekerjaanku. Justru yang paling sering mempermasalahkan orang-orang yang nggak kukenal dan sebaliknya.

Komentar yang paling sering datang dari customer. Nggak jarang lho, kalau misalnya ada pelanggan tante-tante keturunan Tionghoa lagi belanja dan kebetulan aku yang melayani, mereka pasti komen yang menjurus sinis seperti, "Kamu ngapain kerja di sini?", "Emang gajinya berapa, sih?", "Kamu nggak takut kotor ya?". Pertanyaan terakhir itu nyebelin banget, sih. Percayalah, saat si tante mengucapkan kata "kotor", pekerjaan yang aku lakukan saat itu nggak 'bersih' di mata dia.

Nggak cuma tante-tante, kadang ada juga bapak-bapak. Biasanya mereka berkomentar, "Kamu digaji berapa di sini? Mending kerja kantoran kayak saya. Gajinya juga besar. Kebetulan di tempat saya lagi cari pegawai...", kemudian mengeluarkan kartu nama. Zzzz. Nggak ada yang salah menawarkan pekerjaan. Yang salah caranya itu, lho, Pak! 

Sampai sekarang aku masih bingung kenapa masih banyak orang di luar sana yang menghubungkan ras dengan pekerjaan mereka. Kalau orang Cina di Indonesia haram bekerja di bidang blue collar, apa kabar barista-barista Starbucks yang kerja di negara Tiongkok sendiri? Apa masih berani nyinyir mereka dengan alasan yang sama?

Intinya, sih, mau kerja di bidang apapun—selama itu halal—nggak ada hubungannya sama sekali dengan ras atau agama. Nggak benar itu kalau orang Tionghoa harus jadi bos atau pedagang, atau agama tertentu hanya boleh bekerja di profesi tertentu. Kalau begitu rumusnya, Pak Ahok nggak mungkin bikin baper sebagian dari warga Jakarta beberapa hari ini kalau beliau nggak pernah jadi gubernur.

Soal bikin malu temen atau orangtua, takut jadi cibiran orang lain, dll... coba tanya diri sendiri dulu. Malu nggak jadi barista? Malu nggak nyapu, ngepel, cuci piring di dapur? Kalau nggak, ya hajar aja. Kasarnya, ya, yang kerja gue kok, yang digaji juga gue, yang CAPEK juga gue, kok situ yang ribet. Yang setuju katakan YES!

Plis, gaes. Sebelum kamu berkomentar dengan pekerjaan orang lain, coba tolong posisikan diri sendiri menjadi orang lain tersebut. Kalau nggak bisa, ya jangan berkomentar. Capek, lho, ngomongin orang. Lebih baik mikir hal yang paling esensial: kontribusi apa, sih, yang sudah kita berikan dari apa yang kita kerjakan? (:

Wednesday, April 19, 2017

Bali 101: Some Tips and Favorite Things to Try

Sanur Beach, 2015

Dulu sempet bikin postingan ala-ala tips tinggal di Bali, terus baru sadar postingan tersebut HILANG begitu saja.

Terinspirasi dari postingan Mba Lei tentang Bali travel guide (you must read it, seru!), aku bikin ulang dengan format yang berbeda biar lebih enak dibaca.

Daftar di bawah ini campur aduk antara tips dan facts tentang tinggal di Bali, serta rekomendasi tempat dan kegiatan favorit. Bisa juga buat yang udah sering ke Bali, tapi mau act like a local. Apapun itu, semoga berguna, ya!

P.S. Maap-maap, fotonya minim. Yang penting infonya, lah, ya :P


Monday, April 17, 2017

To whom I may concern

Nemu postingan "harta karun" di blog Cup of Jo. 

Dalam postingan tersebut, Jo mengutip dari buku memoarnya Amy Poehler yang berjudul "Yes Please".
I have many friends who have had natural childbirth. I applaud them. I have friends who have used doulas and birthing balls and pushed out babies in tubs and taxicabs. I have a friend who had two babies at home! In bed! Her name is Maya Rudolph! She is a goddamn baby champion and she pushed her cuties out Little House on the Prairie style! 
Good for her! Not for me.
That is the motto women should constantly repeat over and over again.
Good for her! Not for me.
Jenius banget nggak, sih, mantranya? 

Mantra ini aku spesial tujukan kepada orang-orang yang sering ngomong: "Sekarang di rumah aja ngurus anak? Kok nggak kayak si ****, dia punya anak tapi kerja juga, lho." 

Good for her! Not for me.

Atau buat yang pernah ngomong: "Kuliah jauh-jauh buat jadi IRT aja nih? Temen kamu aja udah jadi menejer tuh di kantornya." 

Good for her! Not for me. 

Sekian dan terima kasih

Wednesday, March 15, 2017

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Seumur-umur blogging, ini kedua kalinya aku di-tag postingan award-award-an. Pertama kali di-tag itu di postingan ini

Pas main ke blog Mami Gide, eh ternyata di-tag postingan "Tak Kenal Maka Tak Sayang", which is postingan yang berisi tentang beberapa fakta diri sendiri. Tentang fakta, sebenernya udah pernah tulis di postingan 20 facts about me. Karena di-tag, aku berusaha mikir apa yang menarik yang bisa diceritakan about myself

So here you go, another 15 facts about me! Semoga tulisannya tanpa ada unsur narsis atau pamer, tapi biar mengenal lebih jauh tentang akoh ya! 


Tuesday, March 7, 2017

Serba-Serbi Menikah di Bali (yang katanya mahal)


Apa yang terlintas di benak kalian kalo mendengar ada yang nikah di Bali?

"Ah, pasti mahal banget deh budget-nya."

"Wih, keren banget nikah di Bali! Pasti mahal yah!"

"Nikah di Bali? Kayak artis aja, deh."

Monday, February 20, 2017

Apa Kabar Bayi dan Mama?

Minggu lalu Josh udah icip-icip bubur beras, berarti Josh udah 6 bulan dan aku udah jadi mama selama setengah tahun!

And thanks to Almighty God, both mom and son are survived. HOREEE!


Friday, February 17, 2017

Eat in Bali: Dough Darlings and Jimbaran Seafood

Postingan terakhir tentang (makanan) Bali kemarin. Dan karena kependekan kalo dijadikan dua blog post, digabung jadi satu aja yah!

Plis abaikan judul yang amat sangat tidak kreatif dan tidak SEO friendly.

Wednesday, February 15, 2017

Eat in Bali: Brunch at The Fat Turtle Bali

Satu hal yang aku paling suka kalo lagi di Bali, bisa brunch cantik!

Sebenarnya hari itu (hari Selasa) kami pengen brunch di Dough Darlings, lokasinya di Petitenget, Seminyak. Tapi sampai di tempat, ada tulisan di depan pintu "closed every Tuesday". Padahal udah bolak-balik ngecek Instagramnya sejak beberapa hari lalu, nggak ngeh ada info tutup itu di profile akun mereka. Capek, deh!

Akhirnya aku bilang ke Andreas, ke The Fat Turtle aja, yoks. Kayaknya nggak jauh dari sini. Aku liat di maps, ternyata deket banget dari Dough Darlings, tinggal putar balik saja.

Note: Enaknya di Seminyak, banyak pilihan kafe dan restoran untuk breakfast or brunch, atau sekedar nongkrong cantik. Satu kafe tutup, pintu kafe yang lain terbuka. LOL

Aku cukup penasaran dengan The Fat Turtle sejak dua tahun yang lalu. Ada teman di Bali bilang ada menu jagoan red velvet pancake yang enak banget. Yang ngomong ini pecinta dessert, jadi aku percaya kalo dia bilang enak. Hanyasejak saat itu, aku belum pernah ke sini. Tanpa direncanakan, akhirnya mampir juga, deh, ke tempat ini. 

Konsep kafe ini lebih ke industrial, sofanya ngingetin aku dengan sofa yang sama di Anomali. Kayaknya serupa deh, ya? 

 Iced Latte. Terlalu milky buatku, harusnya pesen yang hot biar lebih terasa kopinya. 

Cold brew-nya enak, ada rasa citrusnya dan agak manis. Seperti biasa, cold brew di Bali hampir semuanya pake biji kopi Kintamani. 

 Lupa apa namanya. Pokoknya isinya sesuai yang dilihat di atas piring ini. Ada toast, mushrooms, bacon, dan favorit suami... poached eggs! Agak 'lecek' ya poached eggs-nya, tapi masih enak, kok. 

 Ini dia sang pemeran utama... the famous red velvet pancake! 
To be surprised, rasanya nggak terlalu manis, lho. Padahal ini ada karamelnya, cream cheese, sama yang cokelat di pinggiran itu kayak remahan cookies. Pokoknya ini enak banget. 

 Pecah telor juga si krucil ikut brunch bareng papa mamanya hihi 

Jangan tanya kenapa ini anak kalo foto sendiri selalu sadar kamera. 

The Fat Turtle ini termasuk kafe kecil, jadi sebisa mungkin jangan berombongan datengnya. Selain rusuh, takut ganggu pengunjung lain—yang di mana saat pergi di sana kebanyakan bule yang datengnya berdua atau sendirian—yang juga lagi asik menikmati waktu mereka. Aku sendiri yang bawa bayi, puji Tuhan anaknya termasuk anteng dan nggak heboh. Semoga sampai gede kamu masih betah diajak ngafe ya, Josh. Siapa tau kamu mau ajak mama brunch date berduaan gitu, kannn. Ihiy! 

Buat yang pengen ke sini, ati-ati nyasar atau kelewat, yah. Soalnya plang kafenya ciyik sekaliii, hampir nggak keliatan. Patokannya sebelum W Hotel Bali (cek peta gugel aja biar aman). Dan kalo bisa bawa motor ajah supaya gampang parkirnya. Setiap kali ke daerah Seminyak, aku prefer bawa motor daripada mobil. Ini karena bawa Josh aja dan hujan jadi bawa mobil. Buat yang bawa mobil, bisa parkir di luar kafe atau di dalam garasi kafe. 

Bakal balik lagi nggak? 

Iya! Pasti balik lagi. Soalnya banyak menu yang pengen aku coba selain pancake-nya. 

Soal harga, ya standar kafe-kafe di Bali, deh. Selamat mencoba, ya! 

The Fat Turtle 
Jl. Petitenget No. 886A, Seminyak, Kerobokan Kelod, Bali.
Open hours: 8 AM - 6 PM 
Call: 0813 3737 4766

Monday, February 13, 2017

Josh's First Baby Spa

Pada akhirnya, aku 'latah' seperti ibu-ibu kekinian lainnya yang bawa bayi untuk baby spa.

Setelah umur 5 bulan lebih, akhirnya Josh nyobain baby spa pertama kali waktu pulang ke Bali kemarin. Emaknya rajin banget, yeee, baby spa aja sampe harus ke Bali segala. Di Bogor ada Mommy n Me sebenarnya, cuma lokasinya jauh banget dari rumah (deket RS Hermina). Mumpung kemaren pulang Bali agak lama, sekalian ngisi waktu dengan nyobain baby spa di sana.

Thursday, February 9, 2017

Chinese New Year 2017

Berhubung masih dalam suasana Imlek dan dua hari sebelum cap go meh, mau cerita kemarin Imlek ngapain aja.

Sejak tahun lalu, hari pertama Imlek (chu yi), aku dan Andreas pulang ke Bali untuk merayakan Imlek dengan keluarga yang di sana. Keluarga Andreas sendiri, mereka lebih memprioritaskan makan malam keluarga bersama di rumah, sehari sebelum Imlek.

Thursday, January 26, 2017

Couple Tag (Andreas & Jane)

Udah lama banget pengen bikin couple tag, today is the day!


Harusnya, sih, berupa vlog ala-ala utuber gitu, tapi karena kami berdua awkward banget ngomong di depan kamera, jadi lewat blog post aja, deh. Mudah-mudahan cukup menghibur, ya!

Note: Jawaban Andreas ditulis sama dia sendiri, ya. Cara dia 'ngomong' lewat tulisan emang begitu.

Couple Tag Andreas & Jane 

Percayalah ini lagi adu panco, bukan ngopi ((: 

Tuesday, January 24, 2017

Life Lately

Seminggu ini rasanya CAPEK BANGET! 

Let's recap! 

1. Hari Jumat yang lalu, adikku yang pertama lagi datang ke Bogor dan pertama kalinya ketemu ponakan. Gemes banget liat mereka berdua ketemu pertama kali, Josh likes his uncle so much. Aku agak kaget liat adikku luwes banget gendong bayi, baru inget doi, kan, dokter. Pasti udah terbiasa sama anak-anak, hahaha. Btw, dokternya belum 'resmi', sebentar lagi mau sumpah dokter, so excited! 

 Emeshhhh!

2. Jadi seperti yang pernah aku mention di sini, kemarin akhirnya kami pindah. Sambil nunggu lantai dua—tempat kami tinggal sekarang—selesai direnovasi, kami tinggal di ruko. Renovasinya cukup memakan waktu, jadi kami tinggal sementara di ruko sejak hari pertama aku pindah ke Bogor setelah menikah dan sampai Josh umur 5 bulan. 

Barang-barang aku dan Andreas, sih, nggak banyak. Aku emang sengaja nggak mau terlalu numpuk banyak barang biar pindahan nggak mabok. Malah barang perintilannya Josh yang lumayan banyak, mayoritas, sih, kado-kado lahiran yang nggak terpakai (which gives me idea to sell them as preloved stuffs, ditunggu ya!). 

Aku dan Andreas sama-sama tepar. Pertama, capek bongkar dan nata kamar (kamarnya Josh, sih, masih berantakan). Kedua, Josh harus adaptasi lagi sama tempat baru. Malam pertama di kamar baru dia sukses ngamuk berat. Padahal Josh itu anak yang super anteng dan jarang banget nangis. Sekalinya nangis dia pasti karena stres dan nggak nyaman. Belum lagi mama papanya juga capek. Poor little boy. Doain semoga malam-malam berikutnya Josh udah lebih tenang, ya, bobonya. 

Eniwei, sementara 'pamer' kamar utama dulu, ya. Kamar lain-lainnya masih acak adul. 

 Kamar ini adem pisan!

 Yang ngamuk semalam siang ini tepar juga.

 Meja kerja sementara. Nanti meja kerja nggak di kamar utama. 


3. Hari Sabtu ini, bertepatan dengan hari raya Imlek, kami berangkat pulang ke Bali. YAAY! 

Kangen banget sama rumah. Terakhir pulang Bali itu bulan April tahun lalu, pas lagi hamil sekitar 18 minggu. Imlek tahun ini ditunggu-tunggu banget, soalnya bakal pulang bareng Josh. Opanya Josh dan uncle yang satunya lagi (yes, aku punya dua adik cowok) udah kangen banget ketemu cucu. Maklum, opa terakhir ketemu itu waktu Josh baru beberapa minggu. Sekarang cucunya udah bayi gede, bisa diajakin main, diajakin becanda, terus udah bisa guling-guling sendiri juga hihi.  

Selain dalam rangka pulang ke rumah, pengen kuliner lagi donggg pastinya. Halooo nasi bigul dan 'donat kesayangan' (if you know what I mean :P)!

Saturday, please comes faster!

Udah, sih, mau laporan itu aja. Biar nggak disangkan 'ngilang'... eh, tapi ada yang nyariin nggak? Nggak ada, yah? Sedih, deh! 

Oh ya, sebelum berangkat mungkin ada 2-3 postingan yang bakal naik tayang. Sebelum berangkat nyicil dulu, biar bisa langsung di-post

Happy Tuesday everyone, stay awesome! 

Monday, January 16, 2017

Brunch at Menya Sakura, Kota Kasablanka

Jadi ceritanya kemarin, setelah sekian lama ke Kota Kasablanka (Kokas) setiap minggu, BARU TAU kalo ada tempat makan di pojokan lantai Food Society bernama Little Tokyo

Ke mana aja selama ini, Jennnn. 

Kebetulan aku bergereja yang gedungnya di dalem Kokas, dan hampir setiap Minggu pasti makan di sana. Setelah hampir bosen makannya itu lagi itu lagi, kemarin iseng deh ke Food Society liat-liat ada restoran apa yang udah buka jam 9 pagi. Akhirnya ketemulah pojokan Little Tokyo ini. Aku dan Andreas, yang sama-sama pecinta Japanese food langsung ber-OOHH ria nemu tempat ini hahaha. 

Ada 3 restoran di sini, salah satunya Menya Sakura. Kebetulan aku lagi pengen makan ramen, jadi kami mampir brunch di sini. 

 Ocha dingin 13,000, refill! 

 Pork Gyoza 35,000. Ini udah dicomot satu terus baru inget belom difoto hahaha

 Penampakan dalam gyoza. Enak banget, gurih-gurih juicy. Sayang dagingnya dikit banget, seporsi isi 5 dimakan berdua nggak berasa sama sekali\

 Tonkotsu Ramen 55,000

Spicy Tonkotsu Chasu Ramen 80,000.
Buat yang nggak gitu suka pedes, ini agak pedes menurut Andreas, tapi masih enak, sih.

Kuah kaldunya ENAK banget! Teksturnya kental dan biji wijennya banyak, jadi super wangi. Aku yang nggak biasa ngabisin kuah ramen, kemarin mangkok aku bersih. Tapi untuk ramennya sendiri, aku masih lebih suka Hakata Ikkousa. Kalo Andreas, sih, suka banget. Sambil makan sambil berkali-kali bilang, "Ini enak banget!". Saking enak (dan lapar juga), doi pesen lagi, deh, semangkok *setdahhh* 

Next visit, pengen cobain Tsukemen atau Donburi, kayaknya enak, soalnya ngintip meja lain pesen ini kok nikmat sekali. 

Penggemar ramen, boleh cobain, nih. Harganya standar restoran ramen di Jakarta, lah (: 

BONUS PIC: 

Papa mamanya asik makan, yang ini asik bobo hihi


Menya Sakura Ramen
Kota Kasablanka UG Floor (Little Tokyo) unit LTU66
Instagram: @menyasakura

Tuesday, January 10, 2017

Thoughts of Blogging (7 years of Jane From The Blog!)

Jadi ternyataaa... blog anniversary aku adalah di bulan Januari, YEAY!

7 taun sudah, aku ngeblog di Jane From The Blog, tapi nggak pernah aku 'sengaja' merayakan anniversary blog ini. Ciyan, deh. Karena euphoria tahun barunya masih hangat, pengen bahas tentang blogging dan tentunya resolusi untuk tahun ini.

Btw, bisa ditengok postingan pertama di blog ini. 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...