Friday, April 28, 2017

Orang Tionghoa Nggak Boleh Jadi Barista?

Woh, judul postingannya udah cukup menengangkan belum?

Beberapa waktu lalu aku dapet sebuah DM di Instagram yang bikin aku gatel pengen ditumpahkan di sini. Isi DM-nya curhatan. Bisa dibaca di bawah ini:

 Btw, udah minta ijin ke ybs kok untuk posting ini (:

Lagi-lagi soal stereotype orang Tionghoa dengan profesi pekerjaan yang dipilih. Klise sekali, bukan? 

Respon setelah baca DM ini, ya senyum-senyum cantik aja. DM itu aku balas sesingkat dan sepadat mungkin. Thank God setelah itu yang mengirim DM ini menikmati pekerjaan baru dia sebagai barista.

Sekarang curhat dikit leh, yaaa.

Waktu aku jadi barista dulu, orang-orang terdekat sama sekali nggak mempermasalahkan pilihan pekerjaanku. Justru yang paling sering mempermasalahkan orang-orang yang nggak kukenal dan sebaliknya.

Komentar yang paling sering datang dari customer. Nggak jarang lho, kalau misalnya ada pelanggan tante-tante keturunan Tionghoa lagi belanja dan kebetulan aku yang melayani, mereka pasti komen yang menjurus sinis seperti, "Kamu ngapain kerja di sini?", "Emang gajinya berapa, sih?", "Kamu nggak takut kotor ya?". Pertanyaan terakhir itu nyebelin banget, sih. Percayalah, saat si tante mengucapkan kata "kotor", pekerjaan yang aku lakukan saat itu nggak 'bersih' di mata dia.

Nggak cuma tante-tante, kadang ada juga bapak-bapak. Biasanya mereka berkomentar, "Kamu digaji berapa di sini? Mending kerja kantoran kayak saya. Gajinya juga besar. Kebetulan di tempat saya lagi cari pegawai...", kemudian mengeluarkan kartu nama. Zzzz. Nggak ada yang salah menawarkan pekerjaan. Yang salah caranya itu, lho, Pak! 

Sampai sekarang aku masih bingung kenapa masih banyak orang di luar sana yang menghubungkan ras dengan pekerjaan mereka. Kalau orang Cina di Indonesia haram bekerja di bidang blue collar, apa kabar barista-barista Starbucks yang kerja di negara Tiongkok sendiri? Apa masih berani nyinyir mereka dengan alasan yang sama?

Intinya, sih, mau kerja di bidang apapun—selama itu halal—nggak ada hubungannya sama sekali dengan ras atau agama. Nggak benar itu kalau orang Tionghoa harus jadi bos atau pedagang, atau agama tertentu hanya boleh bekerja di profesi tertentu. Kalau begitu rumusnya, Pak Ahok nggak mungkin bikin baper sebagian dari warga Jakarta beberapa hari ini kalau beliau nggak pernah jadi gubernur.

Soal bikin malu temen atau orangtua, takut jadi cibiran orang lain, dll... coba tanya diri sendiri dulu. Malu nggak jadi barista? Malu nggak nyapu, ngepel, cuci piring di dapur? Kalau nggak, ya hajar aja. Kasarnya, ya, yang kerja gue kok, yang digaji juga gue, yang CAPEK juga gue, kok situ yang ribet. Yang setuju katakan YES!

Plis, gaes. Sebelum kamu berkomentar dengan pekerjaan orang lain, coba tolong posisikan diri sendiri menjadi orang lain tersebut. Kalau nggak bisa, ya jangan berkomentar. Capek, lho, ngomongin orang. Lebih baik mikir hal yang paling esensial: kontribusi apa, sih, yang sudah kita berikan dari apa yang kita kerjakan? (:

Wednesday, April 19, 2017

Bali 101: Some Tips and Favorite Things to Try

Sanur Beach, 2015

Dulu sempet bikin postingan ala-ala tips tinggal di Bali, terus baru sadar postingan tersebut HILANG begitu saja.

Terinspirasi dari postingan Mba Lei tentang Bali travel guide (you must read it, seru!), aku bikin ulang dengan format yang berbeda biar lebih enak dibaca.

Daftar di bawah ini campur aduk antara tips dan facts tentang tinggal di Bali, serta rekomendasi tempat dan kegiatan favorit. Bisa juga buat yang udah sering ke Bali, tapi mau act like a local. Apapun itu, semoga berguna, ya!

P.S. Maap-maap, fotonya minim. Yang penting infonya, lah, ya :P


Monday, April 17, 2017

To whom I may concern

Nemu postingan "harta karun" di blog Cup of Jo. 

Dalam postingan tersebut, Jo mengutip dari buku memoarnya Amy Poehler yang berjudul "Yes Please".
I have many friends who have had natural childbirth. I applaud them. I have friends who have used doulas and birthing balls and pushed out babies in tubs and taxicabs. I have a friend who had two babies at home! In bed! Her name is Maya Rudolph! She is a goddamn baby champion and she pushed her cuties out Little House on the Prairie style! 
Good for her! Not for me.
That is the motto women should constantly repeat over and over again.
Good for her! Not for me.
Jenius banget nggak, sih, mantranya? 

Mantra ini aku spesial tujukan kepada orang-orang yang sering ngomong: "Sekarang di rumah aja ngurus anak? Kok nggak kayak si ****, dia punya anak tapi kerja juga, lho." 

Good for her! Not for me.

Atau buat yang pernah ngomong: "Kuliah jauh-jauh buat jadi IRT aja nih? Temen kamu aja udah jadi menejer tuh di kantornya." 

Good for her! Not for me. 

Sekian dan terima kasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...